Filsafat Pendidikan Eksistensialisme

Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
1. Realitas
memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas.

2. Pengetahuan
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang bertanggung jawab”? Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri

3. Nilai Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia.
Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.[1] Menurut esensialisme pendidikan harus bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya, dan kekuatannya sepanjang[2] masa sehingga nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya / sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang berbentuk secara berangsur-angsur melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, di dalam telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.[3]
4. Pendidikan Esensialisme [7]
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, dasar bertahan sepanjang waktu untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang tepat untuk membentuk unsur-unsur yang inti (esensiliasme), sebuah pendidikan sehingga pendidikan bertujuan mencapai standart akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
2. Kurikulum pendidikan
a. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered)
b. Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar.
c. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas, penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.
3. Proses Belajar Mengajar
Siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan fakta & keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berfikir.
4. Peranan Guru
1. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi & menguasai kegiatan –kegiatan di kelas.
2. Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan.[8]
Filsafat Pendidikan Progresivisme
1. Latar Belakang
Progresivisme yang lahir sekitar abad ke-20 merupakan filsafat yang bermuara pada aliran filsafat pragmatisme yang diperkenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859- 1952), yang menitikberatkan pada segi manfaat bagi hidup praktis.

Filsafat progressivisme dipengaruhi oleh ide-ide dasar filsafat pragmatisme dimana telah memberikan konsep dasar dengan azas yang utama yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive terhadap semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.
2. Strategi progresif
3. Pendidikan
a. Perhatian terhadap anak
Anak dan lingkungan, anak adalah organism yang mempunyai suatu proses pengalaman, sebab ia merupakan bahagian dan lingkungan yang selalu mengalami proses perubahan dan perkembangan.

Berkenaan dengan konsep pendidikan berpusat pada anak, aliranfilsafat pendidikan progresivisme berpendapat bahwa fungsi utamapendidikan adalah untuk mengembangkan secara maksimal potensi

potensi individual seorang anak. Untuk mencapai tujuan itu maka sedapatmungkin dihindari praktek-praktek pendidikan tradisional yang bersifatotoriter dan pasif. Pengajaran yang bersifat otoriter dan pasif dapatmengakibatkan lemahnya partisipasi subyek didik dalam kehidupanbermasyarakat.

b. Tujuan Pendidikan

Tujuan dan Tugas Pendidikan Demokratis
Secara filosofis, aliran progresivisme memberi definisi pendidikansebagai saluran utama yang memberikan fasilitas bagi upaya-upaya manusiasebagai subyek kebudayaan untuk melestarikan, merekonstruksi, danmengembangkan nilai-nilai ideal suatu kelompok kebudayaan. Nilai-nilaikebudayaan yang dianggap ideal untuk masyarakat Amerika Serikat yangbersifat majemuk adalah nilai-nilai demokratis. John Dewey mencobamengembangkan suatu model filsafat pendidikan demokratis yang dapatmengakomodasi kebutuhan-kebutuhan masyarakat demokrasi modernkontemporer.Aliran filasafat pendidikan progresivisme memandang bahwa prosespendidikan tidak seharusnya terlepas dari realitas sosial masyarakatnya. JohnDewey merumuskan bahwa tujuan pendidikan yang paling bersifat umumadalah mengarahkan subyek didik, berdasar pada kecenderungan alamiah danminat yang dimilikinya, untuk mencapai kemampuan perkembangan melaluipartisipasi aktif dan reflektif dalam suatu cara hidup yang bersifat demokratis.

c. Pendangan Tentang Belajar
d. Kurikulum dan Peranan Guru
e. Prinsip-prinsip pendidikan
4. Potret Guru Progresif
5. Kritik terhadap proresivisme

Perihal betara
berbagi dengan pengalaman yang ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: